Rabu, 09 November 2011

LAPORAN PRAKTIKUM PRODUKSI TANAMAN INDUSTRI PERSIAPAN PEMBUKAAN LAHAN

ACARA I

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Persiapan lahan merupakan pekerjaan membuka lahan dan membersihkan dari vegetasi yang ada untuk diolah dan disiapkan untuk penanaman. Didalam pembukaan lahan areal yang dibuka berupa hutan primer, hutan sekunder. Oleh karena itu berdasarkan kriteria hutan yang ada dan intensitas pekerjaan yang harus dikerjakan maka dapat digolongkan hutan berat, hutan sedang, dan hutan ringan. (prasetyo, dkk, 2008)
Lahan atau tanah merupakan sumberdaya alam fisik yang mempunyai peranan penting dalam segala kehidupan manusia, karena lahan atau tanah diperlukan manusia untuk tempat tinggal dan hidup, melakukan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, pertambangan dan sebagainya. Karena pentingnya peranan lahan atau tanah dalam kehidupan manusia, maka ketersediaannya juga jadi terbatas. Keadaan ini menyebabkan penggunaan tanah yang rangkap ( tumpang tindih ), misalnya tanah sawah yang digunakan untuk perkebunan tebu, kolam ikan atau penggembalaan ternak atau tanah hutan yang digunakan untuk perladangan atau pertanian tanah kering. (Hasnudi dan Eniza saleh, 2004)
Pendayagunaan lahan atau tanah memerlukan pengelolaan yang tepat dan sejauh mungkin mencegah dan mengurangi kerusakan dan dapat menjamin kelestarian sumber daya alam tersebut untuk kepentingan generasi yang akan datang. Pada sistem lingkungan tanah, usaha-usaha yang perlu dikerjakan ialah rehabilitasi, pengawetan, perencanaan dan pendayagunaan tanah yang optimum ( Soerianegara, 1977 ).

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah agar tindakan/pekerjaan berikutnya mudah dilakukan karena lahan telah bersih dari rumput, semak dan belukar.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Areal perkebunan dapat dibangun didaerah bekas hutan, daerah bekas alng-alang atau bekas perkebunan. Daerah-daerah tersebut memiliki topografi berbeda-beda. Namun yang perlu diperhatikan dalam pembukaan areal perkebunan adalah tetap terjaganya lapisan olah tanah (top soil). Selain itu harus memperhatikan urutan-urutan pekarjaan, alat dan tehnik pelaksanaan.
Dalam pembukaan areal perkebunan ini dilakukan beberapa kegiatan yakni:
1. survei areal
survei areal bertujuan untuk menentukan batas-batas areal yang akan dibuka sekaligus menentukan rencana jaringan blak yang akan dibuat, sekaligus membuat peta dengan cara menghubungkan titik satu dengan titik selanjutnya, baik untuk pengukuran batas areal maupun pembuatan rencana blok.
2. desain perkebunan
desain perkebunan bertujuan untuk menentukan tataruang dalam kebun yang terbagi dalam afdeling. (Anonim, 2008)
Apabila pengolahan tanah kering secara lestari telah dikuasai masyarakat pedesaan, maka tidak akan ada kritis mata pencaharian yang menyebabkan tanah menjadi kritis. Pengendalian teknologi pengolahan tanah kering secara lestari adalah sederhana, tidak memerlukan peralatan serba modern (canggih) dan pendidikan tinggi. Azas pengelolaan lahan kering adalah menciptakan lingkungan perakaran yang dalam, mempertahankan kemampuan tanah menyimpan air dan mengedarkan udara, tindakan terakhir adalah memperkaya tanah dengan zat hara tersedia untuk akar. (Hasnudi dan Eniza saleh, 2004)
Untuk pelaksanaan pembukaan lahan dapat dilakukan sebagai berikut:
 Pembagian hutan berdasarkan geografis terdiri dari; hutan payo, hutan rawa, hutan pematang, dan hutan dataran dan pegunungan.
 Pembagian hutan berdasarkan vegetasi terdiri dari; hutan primer yaitu terdapat pohon dengan diameter >30cm dengan kerapatan 25-100 pohon/ha dan diameter < 30 cm dengan kerapatan 2500 pohon/ha. Dan hutan sekunder yaitu kerapatan [ohon <2500 pohon/ha dengan diameter 30 cm.  Pembagian hutan berdasarkan intensitas cahaya terdiri dari; hutan berat yaitu hutan primer dimana jenis kayu keras masih utuh atau sebagian kecil yang telah diambil. Hutan sedang, yaitu hutan primer yang telah diambil kayu-kayuan terutama yang berdiameter >30 cm, dan hutan ringan yaitu vegetasi yang ada semak belukar serta sisa-sisa kayu dan alang-alang dan umumnya merupakan hutan bekas perladangan.
Pembukaan lahan untuk perkebunan dibagi kedalam dua tempat yaitu, pembukaan untuk hutan dan pembukaan untuk alang-alang yang akan diuraikan sebagai berikut:
o Pembukaan hutan
 Pembukaan hutan untuk perkebunan dapat dibagi menjadi 3 cara yaitu sistem mekanik, manual, dan khemis yang semuanya memiliki kekurangan dan kelebihan.
o Pembukaan alang-alang
 Pembukaan alang-alang untuk dijadikan sebagai lahan perkebunan akan lebih mudah diolah dari pada lahan hutan, namun cara pengerjaannya juga sama dengan areal hutan yaitu secara manual. Mekanik dan khemis.
Dalam pembukaan lahan untuk perkebunan perlu dilakukan pencegahan erosi terlebih pada lahan/areal yang miring (berombak, bergelombang atu berbukit), maka usaha-usaha dalam mencegah erosi/kerusakan lahan yaitu:
a. Penanaman secara kontur/garis tinggi
b. Pembuatan teras yaitu dapat dengan teras individu dan teras kolektif.
c. Penanaman tanaman penutup tanah, sangat penting untuk pencegahan erosi.













BAB III
METODOLOGI
3.1 Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang diperlukan untuk kegiatan ini meliputi : semprotan punggung, ember, gelas ukur, tali raffia, herbisida (Round Up, Clean Up, Sun Up,Sida Up).
3.2 Cara Kerja
1. Membuat batas lahan dengan menggunakan talia raffia untuk menentukan areal yang kan ditebas atau disemprot. Pekerjaan penebasan semak belukar dilakukan 2 minggu sebelum penyemprotan. Adapun luas lahan yang digunakan untuk setiap kelompok adalah 15 m x 15 m.
2. Membuat larutan herbisida yang sesuai dengan dosis anjuran yang tertera pada wadah yang ada.
3. Adapun tahapan pembuatan larutan herbisida yaitu sebagi berikut yang pertama memasukan cairan herbisida sesuai takaran ke dalam alat semprot punggung selanjutnya memasukan air sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga larutan merata.
4.Menyemprotkan larutan herbisida tersebut dengan menggunakan nozel setinggi permukaan semak/belukar.
5.Menyemprotkan larutan herbisida tersebut secara merata kesemua bagian tanaman semak atau belukar yang da pada arealyang telah ditentukan. Arah penyemprotan tidakboleh berlawanandengan arah angin.
6.Mengusahakan agar tekanan pompa tidakberlebihan.
7.Menjaga Jarak atau lebar semburan antara satu penyemprot dengan penyemprot lainnya agar dijga tidak yang tertinggal.
8. Memberi tanda pada saat pengisisan ulang tangki sprayer, untuk mencegah agar ilalang tidak tersemprot atau tersemprot ulang.
9. Melakukan pengulangan penyemprotan apabila turun hujan kurang dari 6 jam setelah penyemprotan.
10. Melakukan penyemprotan kedua setelah 14-21 hari setelah penyemprotan pertama untuk lebih memastikan agar gulma benar-benar mati.
11. Membiarkan hasil penyemprotan sekitar wakti 1-2 minggu untuk dapat mengerjakan kegiatan berikutnnya.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
Jenis gulma Pengamatan
Gulma berdaun lebar 2 hari sebelum penyemprotan baru tampak gulma menguning.
Alang-alang 1 minggu setelah penyemprotan baru terlihat efek dari penyemprotan

4.2 Pembahasan
Pembukaan lahan merupakan hal yang sangat penting dalam memulai budidaya semua jenis komoditi daripada pertanian tidak terkecuali pada tanaman pangan, horti dan tahunan (perkebunan) semuanya harus dilakukan pengolahan lahan. Namun diantara ketiga golongan tanaman tersebut mungkin berbeda dalam hal pengolahannya misalnya tanaman perkebunan tidak memerlukan pengolahan secara sempurna, cukup dilakukan pengolahan secara minimum bahkan tanpa olah tanah, atau pengolahan cukup dilakukan pada lobang tanaman saja.
Dalam pembukaan lahan pada praktikum ini yaitu pembukaan lahan untuk karet dan kopi kami terlebih dahulu menentukan luas lahan yang akan digunakan setelah itu kami melakukan penebasan pada kayu dan semak-semak sedangkan untuk kayu-kayu yang besar tidak seluruhnya kami tebang, berhubung karena sebagian kayu dapat dipergunakan untuk membuat naungan tanaman, terlebih untuk tanaman kopi yang memang memerlukan naungan dalam pertumbuhannya, dan semua semak-semak dan hasil potongan kayu yang lainnya kami kumpulkan di sisi dari petakan lahan kami, dalam praktikum ini kami tidak melakukan pembakaran lahan, karena pembakaran tanah tidak baik dilakukan yaitu dapat membunuh organisme lainnya dan dapat menimbulkan kerusakan pada tanah.
Satu minggu setelah penebasan kami melakukan penyemprotan dengan menggunakan herbisida Roun up dengan takaran 4-5 l/1000 l air, dengan bahan aktif glifosat. Herbisida ini dalam bentuk cair yang bersifat sistemik yaitu herbisida yang cara kerjanya, sebelum bereaksi akan masuk kedalam jaringan tumbuhan terlebih dahulu. Tujuan penyemprotan satu minggu setelah penebasan adalah tunas baru daru gulma sudah mulai tumbuh.
Pada saat telah dilakukan penyemprotan gulma belum memberikan reaksi masih dalam keadaan semula, hal ini disebabkan oleh herbisida tersebut belum masuk kedalam jaringan tumbuhan tersebut, reaksi/ efek dari penyemprotan tersebut baru mulai terlihat pada 2 hari setelah penyemprotan pada gulma berdaun lebar dan 1 minggu pada gulma alang-alang. Perbedaan lamanya efek/ reaksi yang diberikan gulma terhadap penyemprotan dipengaruhi oleh luasnya/panjangnya jaringan dari gulma tersebut. Pada gulma berdaun lebar pada umumnya sistem perakarannya adalah dangkal sehingga herbisida akan lebih cepat menjangkau seluruh jaringan dari pada gulma tersebut, sedangkan pada gulma alang-alang memiliki sistem perakaran yang cukup dalam, ditambah dengan rhizoma dari gulma yang dapat menyebar dengan luas, sehingga bahan aktif dari herbisisda akan lebih lama untuk masuk kedalam jaringan gulma tersebut.
Pada saat masuk kedalam jaringan tumbuhan bahan aktif tidak langsung membunuh jaringan tanaman tersebut, karena jika langsung membunuh jaringan tanaman yang dilaluinya maka bahan aktif herbisisda tersebut tidak bisa masuk kejaringan yang labih dalam lagi, oleh karena itu herbisida ini akan berreaksi setelah berada pada jaringan tanaman, dan reaksi yang ditunjukkan akan sama pada bagian atas tumbuhan dan bagian bawah tumbuhan akan sama, karena seluruh jaringan telah dimasuki oleh bahan aktif herbisisda tersebut.

BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum ini didapat kesimpulan :
 Dalam pengolahan lahan kita perlu memperhatikan kemiringan dari lahan yang akan kita gunakan karena dapat mempengaruhi besar kecilnya erosi yang akan terjadi.
 Pada pembukaan lahan untuk tanaman perkebunan biasanya pengolahan lahan tanah cukup dilakukan pada lobang tanam saja.
 Herbisida Round up memiliki bahan aktif glifosat yang merupakan herbisida sistemik yang terlebih dahulu akan masuk kedalm jaringan tanaman baru bereaksi.
 Lama dan cepatnya reaksi akan ditentukan oleh panjangnya jaringan tumbuhan tersebut dan kandungan zat yang dimiliki oleh tumbuhan tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011. Teknik Pembukaan Lahan Tanpa Bakar. http://ditjenbun.deptan.go.id/perlinbun/linbun/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=157. Donwlod 18 Mei 2011.
Hasan. 2011. Budidaya tanaman coklat. http://groups.yahoo.com/group/agromania/. Download 21 Juni 2011.

Prasetyo, dkk. 2011. Penuntun praktikum Budidaya Tanaman Tahunan. Laboratorium Agronomi UNIB, Bengkulu.

Prasetyo, dkk. 1997. Bahan Kuliah Produksi Tanaman Perkebunan I. Fakultas Pertanian UNIB, Bengkulu.

0 comments:

Poskan Komentar