Selasa, 19 April 2011

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH (DDIT) PENGAMATAN MORFOLOGI PROFIL, PENGAMBILAN CONTOH DAN PEMBUATAN PREPARAT TANAH

BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Profil tanah merupakan penampang tegak tanah yang memperlihatkan berbagai lapisan tanah. Pengamatan profil sangat penting dalam mempelajari sifat-sifat tanah secara cepat dilapangan, terutama yang berkaitan dengan genetis dan klasifikasi tanah. Sidik cepat beberapa sifat fisik, kimia dan biologi tanah juga biasanya dilakukan dengan bersamaan dan merupakan bagian pengamatan profil tanah. Evaluasi terhadap sifat-sifat tanah ini kemudian dilanjutkan secara lebih rinci di laboratorium dengan menggunakan contoh tanah.
Contoh tanah dibedakan atas beberapa macam tergantung pada tujuan dan cara pengambilan. Bila contoh tanah diambil pada setiap lapisan untuk mempelajari perkembangan profil menetapkan jenis tanah maka disebut “contoh tanah satelit”. Contoh tanah yang diambil dari beberapa tempat dan digabung untuk menilai tingkat kesuburan tanah disebut “contoh tanah komposit”. Pengambilan contoh tanah secara komposit dapat menghemat biaya analisis bila dibandingkan dengan pengambilan secara individu ( Peterson dan calvin, 1986 ). Adalagi contoh tanah yang diambil dengan pengambilan sampel (care) dan disebut dengan contoh tanah utuh, yang biasanya digunakan untuk menetapkan sifat tanah disebut contoh tanah utuh karena strukturnya asli seperti apa adanya di lapangan sedangkan contoh tanah yang sebagian atau seluruh strukturnya telah rusak disebut contoh tanah terganggu.

B. TUJUAN PRAKTIKUM
Adapun tujuan dari kedua acara praktikum ini adalah :
 Untuk mempelajari sifat-sifat dari beberapa jenis tanah pada setiap lapisan atau horison
 Mengambil contoh tanah di lapangan untuk dianalisis di laboratoirum.
 Menyiapkan contoh tanah sebelum dianalisis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Ada beberapa macam definisi tanah, menurut Joffe dan Marbut ( ahli ilmu tanah dari USA ), tanah adalah tubuh alam (natural body) yang terbentuk dan berkembang sebagai akibat bekerjanya gaya-gaya alam atau natural forces terhadap bahan-bahan alam (natural material ) dipermukaan bumi.
Tanah tersusun atas : bahan mineral, udara dan air tanah. Susunan utama tanah berdasarkan volume dari jenis tanah dengan tekstur berlempung, berdebu dengan catatan tanaman dapat tumbuh dengan baik yaitu udara 25 %, air 25 %, mineral 45 % dan bahan organik 5 %.
Horison adalah lapisan-lapisan tanah yang terbentuk karena hasil dari proses pembentukkan tanah. Horison-horison yang menyusun profil tanah dari atas ke bawah adalah :
a. Horison O
Horison ini diketemukan pada tanah di dalam hutan yang belum terganggu dan merupakan horison organik yang terbentuk di atas lapisan mineral. Horison ini terdiri dari horison O1 yang mana bentuk asli sisa-sisa tanaman masih dapat dibedakan dengan jelas dan O2 dimana sisa-sisa tanaman tidak dapat dibedakan dengan jelas.
b. Horison A
Horison A nerupakan horison yang berada di permukaan tanah yang terdiri atas campuran antara bahan organik dan bahan mineral dan merupakan horison pencucian atau eliviasi dari bahan-bahan seperti liat, asam-asam organik serta kation-kation terutama Ca, K, Na dan Mg.
c. Horison C
Horison ini merupakan lapisan bahan induk tanah yang telah mengalami pelapukan. Proses pelapukkan yang terjadi pada horison ini baru pada tahap pelapukan fisik dan belum mengalami perubahan secara kimiawi. Pengaruh mahluk hidup belum mencapai horison ini.
d. Horison D atau R
Horison merupakan sumber bahan penyusun tanah yang sangat menentukan sifat-sifat tanah yang terbentuk.
Tanah yang berkembang dengan berbagai proses tersebut memiliki sifat-sifat yang berbeda-beda. Perbedaan itu meliputi : perbedaan sifat profil tanah seperti dan susunan horison, kedalaman solum tanah, kandungan bahan-bahan organik dan liat, Kandungan air dan sebagainya.
Batas suatu horison dengan horison lain dalam suatu profil tanah dapat dilihat dengan jelas atau baur. Disamping itu bentuk topografi dan batas horison dapat rata, berombak. Tidak teratur dan terputus. Warna tanah merupakan petunjuk untuk beberapa sifat tanah, penyebab perbedaan warna pada umumnya karena perbedaan kandungan bahan organik. Makin tinggi kandungan bahan organik maka warna tanah akan semakin gelap, warna tanah ditentukan dengan menggunakan warna baku dalam buku “Munsell Soil Color Chart” dalam warna baku disusun oleh 3 variabel yaitu Hue, Value dan Chroma.
Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah. Berdasarkan perbandingan butir pasir, debu dan liat maka tanah dikelompokkan ke dalam beberapa macam kelas tekstur yaitu :
 Kasar terdiri dari pasir dan pasir berlempung
 Agak kasar terdiri dari lempung berpasir dan lempung berpasir halus.
 Sedang : lempung berpasir sangat halus, lempung, lempung bedebu dan debu
 Agak halus : lempung liat, lempung liat berpasir, dan lempung liat berdebu.
 Halus : liat berpasir, liat berdebu dan liat.
Untuk mengukur baisanya digunakan segitiga tekstur tanah. Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir tanah. Gumpalan struktur terjadi karena butir-butir pasir pasir, debu dan liat terikat satu sama lain oleh perekat seperti bahan organik, oksidasi dan lain-lain. Konsistensi tanah menunjukkan kekuatan daya kohesi butir tanah atau daya adhesi butir tanah dengan benda lain.
Bulk density, menunjukkan perbandingan antara berat tanah kering dengan volume tanah termasuk volume pori tanah. Pori tanah adalah bagian yang tidak terisi bahan padat tanah ( terisi oleh udara dan air ). Terbagi atas pori makro dan mikro. Cole merupakan sifat mengembang ( bila basah ) dan mengerut ( bila kering ). Nilai-Nematoda merupakan nilai untuk menunjukkan tingkat kematangan tanah. Sifat – sifat lain dari tanah yaitu keadaan batuan pada ( pan ), kedalaman efektif dan lereng


BAB III
METODELOGI


a. Bahan dan alat
Adapun bahan dan alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah parang, cangkul, meteran, pisau lapang, buku standar warna, daftar isian alat tulis, aquades, kantong plastik, ring sampel, lem, lebel, kertas koran, tampir atau nyiru, lumpang dan ayakan 2 dan 0,5 mm.
b. Metode dan cara kerja
Metode yang digunakan adalah terjun langsung ke lapang. Adapun cara kerja adalah :
 Dipilih tempat yang sesuai untuk pembuatan profil, dibersihkan dari vegetasi yang menutupi permukaan.
 Dibuat lubang profil. Penampang pengamatan sebaiknya sebelah atas lereng sinar matahari.
 Pengamatan jangan dilakukan pada waktu hujan, disemprotkan bagian kering dengan aquades dan terkena Menentukan batas lapisan (horison ) dengan menusuk profil pada sisi pengamatan dengan pisau lapang dambil meremas gumpalan tanah ditangan kiri atau dengan cara memukul-mukul untuk mengetahui perbedaan bunyinya.
 Diperhatikan perbedaan warna, tekstur dan kepadatan lapisan kemudian diukur kedalaman masing-masing horison dari atas ke bawah.
 Digunakan kriteria penilaian kemudian diisi tabel isian di buku penuntun praktikum
 Untuk pengambilan contoh tanah dilakukan dengan pisau lapang sebanyak 2 kg pada masing-masing horison dan dimasukkan ke dalam kantong plastik, diberi label dan keterangan lalu ikat dengan karet
 Untuk pengambilan contoh tanah utuh dilakukan dengan bantuan ring sampel.
 Dimasukkan ring sampel pelan-pelan, ditekan dengan menggunakan papan datar lalu dikeluarkan. Masukkan ke dalam plastic dan diberi label.
 Untuk persiapan preparat, kita keringkan udara tanah terganggu diatas tanpir yang telah dialasi dengan koran. Bongkah tanah yang besar dikecilkan, sisa tumbuhan, akar dan batuan dipisahkan lalu tata dengan baik.
 Dikering dan dianginkan selama 2-3 hari
 Setelah kering tanah ditumbuk dan diayak dengan ayakan. Tanah ini disimpan dalam kantong plastik yang telah diberi label, sisanya dalam kantong plastik dengan kode yang sama. Tanah ini digunakan untuk analisis berat jenis, kadar air, kering angin, tekstur dan DHL.
 Diambil contoh tanah secukupnya lalu diayak dengan ayakan. Disimpan dalam kantong plastik dan diberi label. Tanah ini digunakan untuk analisis bahan organik
 Disimpan tanah dalam ring sampel analisis bahan organik. Pengukuran tanah ini digunakan untuk konduktivitas hidrolika, tanah jenuh, berat volume dan kadar lengas.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Pengamatan
Adapun hasil praktikum yang saya dapat adalah :
• Lokasi Pengamatan : Depan Lab Agro
• Profil nomor : 01
• Bahan induk : Tupa Vulkan Masam
• Tumbuhan : Akasia,semak-semak,kelapa sawit
• Posisi tanah : Summit
• Kelembaban : Lembab
• Kelerengan (%) :
• Drainase : Sedang
• Tingkat erosi : Sedang
• Pemerian oleh : Mita Seprianti











Pembahasan
Pada pembahasan ini, dapat diuraikan dari hasil praktikum yang telah dilakukan dilokasi antara Depan Lab Agro, tanaman atau tumbuhan yang hidup diatasnya kebanyakan semak-semak ,akasia, kelapa sawit. Horison yang ditemukan pada praktikum ini ada 5 yaitu horison A1, A2 horison peralihan, Horison B1, horison B2 serta horison B3. Pembahasan masing horison adalah sebagai berikut :
Horison A1 ( 0 - 18 cm )
Merupakan horison di permukaan tanah yang terdiri dari campuran bahan organik dan bahan mineral dan horison eluviasi ( horison yang mengalami pencucian ) terhadap liat, Fe, Ai dan bahan organik. Horison ini memiliki kedalaman 0-18 cm yang terletak atau batas horison atas dan jelas.
Warna tanah yang ditemukan pada horison ini adalah red (merah) artinya kandungan bahan organiknya sedikit. Pada tanah ini drainasenya tidak begitu baik. Tekstur tanah adalah liat berdebu. Struktur tanahnya : Granular, dimana tingkat perkembangan tanah lemah ( butir struktur tanah mudah hancur ), bulat dan porous. Konsentrasi tanah pada horison A1 bersifat agak pelastis, perakaran 80 % dengan batasan horizon yang jelas bergelombang.

Horison A2 (18-28 cm)
Merupakan horizon dipermukaan tanah yang terdiri dari campuran bahan organic dan mineral. Horison ini memiliki kedalaman 18-28 cm. Warna tanah yang ditemukan adalah red (merah).
Konsistensi, remah artinya tanah ini konsistensinya baik sehingga mudah diolah, tidak melekat pada alat pengolah tanah yang bersifat plastis. Perakaran 70 % dengan batasan horizon yang jelas bergelombang.




Horison B1 (28-43 cm)
Merupakan horison iluviasi dari bahan yang tercuci diatasnya ( liat, Fe, Al, bahan organik ). Peralihan dari horison A ke Bahan-bahan lebih menyerupai B. warna tanah yellowish red. Teksturnya adalah liat berdebu yang cirinya adalah rasa halus, berat, agak licin, sangat lekat, dapat dibentuk bola teguh dan mudah digulung.
Strukturnya adalah gumpal tidak bersudut. Bahan-bahan dengan iklim basah. Konsistensi gembur; mudah diolah, tingkat porositasnya relaitf tinggi. Perakaran 40 %.
Konsistensinya bersifat plastis dengan batas horizon yang tidak jelas bergelombang.

Horison B2 (43-68 cm)
Merupakan horison peralihan dari B ke Horison C namun lebih menyerupai B. warna tanah yellowish red.Teksturnya adalah liat artinya rasa halus dengan debu
Struktur tanahnya adalah gumpal tidak bersudut dengan perakaran 20 %. Konsistensinya bersifat plastis dengan batasan horizon tidak jelas bergelombang yang artinya bahwa akar tidak dapat menembus tanah.

Horison B3 ( > 68 cm)
Warna tanah yellowish red. Teksturnya adalah liat artinya rasa halus dengan debu.
Struktur tanahnya adalah gumpal bersudut dengan perakaran 10 %. Konsistensinya bersifat sangat plastis dengan batasan horizon tidak jelas bergelombang yang artinya bahwa akar tidak dapat menembus tanah.




2. KESIMPULAN
Kesimpulan dari pembahasan diatas adalah profil tanah disusun oleh lapisan-lapisan tanah atau lebih dikenal dengan horison-horison. Horison yang menyusun solum tanah adalah horison A ( A1, A2, A3 ) dan horison Bahan-bahan ( B1, B2, B3 ) serta ditambah dengan horison C dan horison Reaksi yang kedua horison ini tidak kami ketemukan dalam praktikum dan tanah terdiri dari hasil pelapukkan batuan yang bercampur dengan bahan organik.
Proses perkembangan atau penyusunan tanah yang berbeda akan mengakibatkan perbedaan sifat-sifat tanah pada suatu daerah. Sifat fisik tanah pada setiap lapisan / horison dipengaruhi oleh tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi tanah, porositas tanah, warna tanah, drainase tanah, Bulk density cole serta keadaan perakaran dan lingkungan.


DAFTAR PUSTAKA

Tim pengasuh Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 2002. Petunjuk Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Lab. Ilmu Tanah. Fakultas pertanian . Universitas Bengkulu. Bengkulu.
Soeparti, Goeswono. 1983. Sifat Dan Ciri Tanah. IPB. Bogor
Hakim, Nurhayati, dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung
Harejowigeno, Sarwono. 1995. Ilmu Tanah. Cv. Akademika Pressindo. Jakarta
Abdula. 2006. Ilmu Tanah. Swadaya; Jakarta.
Suharti. 2004. Dasar-Dasar Ilmu tanah. Faperta Unib; Bengkulu.

0 comments:

Poskan Komentar