Rabu, 09 November 2011

EKOSISTEM LAUT DANGKAL

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Pengertian ekosistem laut
Ekosistem air laut merupakan ekosistem yang memiliki ciri-ciri
• salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar.
• ekosistem yang memiliki perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi. (Batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut daerah termoklin)
• tidak dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.

Ekosistem air laut terbagi menjadi:
• Laut
• Pantai
• Estuari (muara)
• terumbu karang

1.2. Pembagian Ekosistem Laut
Pembagian daerah ekosistem air laut, berdasarkan kedalamannya:
1. Daerah Litoral/Daerah Pasang Surut
Daerah litoral adalah daerah yang langsung berbatasan dengan darat. Radiasi matahari, variasi temperatur dan salinitas mempunyai pengaruh yang lebih berarti untuk daerah ini dibandingkan dengan daerah laut lainnya. Biota yang hidup di daerah ini antara lain: ganggang yang hidup sebagai bentos, teripang, binatang laut, udang, kepiting, cacing laut.
2. Daerah Neritik

Daerah neritik merupakan daerah laut dangkal, daerah ini masih dapat ditembus cahaya sampai ke dasar, kedalaman daerah ini dapat mencapai 200 m. Biota yang hidup di daerah ini adalah plankton, nekton, neston dan bentos.
3. Daerah Batial atau Daerah Remang-remang:
Kedalamannya antara 200 - 2000 m, sudah tidak ada produsen. Hewannya berupa nekton.
4. Daerah Abisal:
Daerah abisal adalah daerah laut yang kedalamannya lebih dari 2000 m. Daerah ini gelap sepanjang masa, tidak terdapat produsen.







BAB II
PEMBAHASAN

KOMPONEN EKOSISTEM LAUT DANGKAL
2.1. Susunan Sifat Air Laut
Suhu Air Laut
Suhu air laut pada Perairan Indonesia yang terletak di daerah tropik, maka hampir sepanjang tahun suhu lapisan permukaan air lautnya tinggi, berkisar 26° C - 30° C. Perubahan temperatur (amplitudo) air laut, kecil karena air laut lambat menjadi panas dan lambat menjadi dingin.
Tekanan
Tekanan air laut tidak sama besarnya pada kedalaman yang berbeda, makin dalam tingkat kedalaman laut maka makin besar tekanannya. Tekanan udara tiap m² permukaan air laut sebesar 10.000 kilogram harus diperhitungkan sebagai faktor penghitung dalam mengukur tekanan air laut. Berat untuk 1 meter³ air laut lebih kurang 1150 kilogram. Jadi tekanan air laut pada kedalaman 100 meter adalah: 100 x 1150 kg + 10.000 kg = 125.000 kg/m²
2.2. Adaptasi biota laut terhadap lingkungan yang berkadar garam tinggi
Pada hewan dan tumbuhan tingkat rendah tekanan osmosisnya kurang lebih sama dengan tekanan osmosis air laut sehingga tidak terlalu mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Tetapi bagaimanakah dengan hewan tingat tinggi, seperti ikan yang mempunyai tekanan osmosis jauh lebih rendah daripada tekanan osmosis air laut. Cara ikan beradaptasi dengan kondisi seperti itu adalah:
- banyak minum
- air masuk ke jaringan secara osmosis melalui usus
- sedikit mengeluarkan urine
- pengeluaran air terjadi secara osmosis
- garam-garam dikeluarkan secara aktif melalui insang

2.3. Komunitas di Dalam Ekosistem Air Laut

Menurut fungsinya, komponen biotik ekosistem laut dapat dibedakan menjadi 4, yaitu:
a. Produsen
Terdiri dari fitoplankton dan ganggang laut lainnya
b. Konsumen
Terdiri dari berbagai jenis hewan. Hampir semua filum hewan ditemukan di dalam ekosistem laut.
c. Zooplankton
Terdiri atas bakteri dan hewan hewan pemakan bangkai atau sampah

Pada ekosistem laut dalam, yaitu pada daerah batial dan abisal merupakan daerah gelap sepanjang masa.
Di daerah tersebut tidak berlangsung kegiatan fotosintesis, berarti tidak ada produsen, sehingga yang ditemukan hanya konsumen dan dekompos saja. Ekosistem laut dalam merupakan suatu ekosistem yang tidak lengkap.
2.4. Komponen Ekosistem Laut dangkal
Nekton
• Kata “nekton" diberikan oleh Ernst Haeckel tahun 1890 yang berasal dari kata Yunani (Greek) yang artinya berenang ("the swimming") yang meliputi (biofluidynamics, biomechanics, functional morphology of fluid locomotion, locomotor physiology). Ilmunya disebut Nektology. Orangnya disebut Nektologist.

Plankton
Plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut apapun yang hidup dalam zona pelagic (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar. Secara luas plankton dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik.
Bagi kebanyakan makhluk laut, plankton adalah makanan utama mereka. Plankton terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut. Ukurannya kecil saja. Walaupun termasuk sejenis benda hidup, plankton tidak mempunyai kekuatan untuk melawan arus, air pasang atau angin yang menghanyutkannya.
Plankton hidup di pesisir pantai di mana ia mendapat bekal garam mineral dan cahaya matahari yang mencukupi. Ini penting untuk memungkinkannya terus hidup. Mengingat plankton menjadi makanan ikan, tidak mengherankan bila ikan banyak terdapat di pesisir pantai. Itulah sebabnya kegiatan menangkap ikan aktif dijalankan di kawasan itu.
Neuston
Neuston adalah istilah kolektif untuk organisme yang mengapung di atas air (epineuston) atau tinggal tepat di bawah permukaan (hyponeuston).. Neustons terdiri dari beberapa spesies ikan, kumbang, protozoa, bakteri, dan laba laba air. . Sebuah laba-laba air adalah contoh umum yang melompat melintasi air tegangan permukaan.
Perifiton
Kompleks biota akuatik sesil terasosiasi dengan detritus, yang menempel pada substrat terendam; kompleks campuran mikroalga, cyanobacteria, heterotropic mikroba, protozoa, dan detritus; organisme bentik terkombinasi dengan mikroba biofilm
Seperti fitoplankton, perifiton dapat ditemukan pada banyak tipe perairan, mulai dari kolam kecil hingga laut luas; berbagai macam substrat dalam air dengan keberadaan cahaya dapat mensupport pertumbuhan perifiton
Peran perifiton :
- Sebagai Produsen primer
- Indikator mutu kualitas air
- Menjaga kualitas air pada indicator mutu tertentu bagi perairan perikanan yang terkendali
- Dapat digunakan sebagai agen filtrasi dalam produksi akuakultur
2.5. Rantai Makanan dan Aliran Energi pada Ekosistem Laut Dangkal
Dari pemaparan-pemaparan di atas, kita sudah mengetahui bahwa ekosistem laut dangkal merupakan daerah dimana cahaya matahari dapat masuk, sehingga, ekosistem ini memiliki potensi fotosintesis yang sangat tinggi. Kita juga sudah mengetahui bahwa di dalam ekosistem ini terdapat banyak makhluk hidup yang terbagi menjadi produsen, konsumen (makrokonsumen ataupun detritivor), dan dekomposer. Dari data-data ini, selanjutnya kita bisa membuat konsep rantai makanan pada ekosistem laut dangkal dengan produsen sebagai awalannya (jenis rantai makanan perumput). Rantai makanan pada ekosistem ini yaitu : produsen  konsumen I  konsumen II  Konsumen III, dst. Gambar piramida makanan dibawah ini akan lebih memperjelas rantai makanan tersebut.

produsen, yaitu phytoplankton, makroalga ataupun tanaman berbunga (seagrass) membuat zat organik melalui fotosintesis dengan mengambil energi dari matahari. Lalu, konsumen I yang merupakan herbivora memakan tumbuhan tersebut, sehingga sesuai dengan hukum kekelan energi dimana energi tidak bisa dihancurkan maupun diciptakan, namun hanya bisa diubah menjadi bentuk energi lain, maka energi matahari pada tumbuhan pastilah akan berpindah ke konsumen I. Tetapi, karena apapun yang kita makan pasti akan menghasilkan residu, dan kita juga menMgeluarkan energi saat mencerna makanan tersebut, maka tidak semua energi dari makanan yang kita makan diserap oleh tubuh. Karena itulah, kira-kira energi yang bisa diserap konsumen dari makanannya hanya sebesar 10%.
Misalnya energi cahaya matahari yang ditangkap oleh tumbuhan sebesar 10,000 Kj, maka konsumen I akan mendapat energi kira-kira sebesar 1000 Kj. Konsumen II akan mendapat energi kira-kira sebesar 100 Kj. Konsumen III akan mendapat energi kira-kira sebesar 10 Kj, dst. Itulah sebabnya mengapa jumlah rumput laut selalu lebih besar dari konsumen-konsumen diatasnya dan ikan hiu selalu berjumlah lebih sedikit dibandingkan hewan-hewan mangsa yang berada di taraf trofi lebih rendah. Tentunya karena rumput laut selalu mendapatkan energi paling besar dan ikan hiu selalu mendapat energi paling sedikit. Inilah alasan mengapa piramida makanan selalu berbentuk segitiga, karena piramida ini juga menunjukkan jumlah. Skema aliran energi bisa dilihat dalam gambar di bawah ini.


2.6. Jaring-Jaring Makanan Pada Ekosistem Laut Dangkal
Telah kita ketahui bahwa ekosistem laut dangkal merupakan ekosistem yang terpapar cahaya matahari sehingga ada banyak sekali produsen yang bisa hidup di area ekosistem ini. Kita juga sudah mengetahui urutan rantai makanan dan aliran energi di dalam ekosistem laut dangkal. Sekarang kita bisa memaparkan jaring-jaring makanan di ekosistem laut dangkal dengan meninjau gambar-gambar berikut ini.




Gambar 2.6 Jaring-Jaring Makanan Ekosistem Laut Dangkal


Ekosistem air laut memiliki luas lebih dari 2/3 permukaan bumi ( + 70 % ). Ekosistem laut memiliki kadar mineral yang tinggi, ion terbanyak ialah Cl`(55%), namun kadar garam di laut bervariasi, ada yang tinggi (seperti di daerah tropika) dan ada yang rendah (di laut beriklim dingin). Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan iklim, laut menemui masalah-masalah dalam ekosistemnya. Ekosistem laut semakin lama menemui situasi yang memperihatinkan.
Permasalahan ekosistem laut yang ditemui terdiri dari: hilangnya ekosistem terumbu karang dan pencemaran laut.
1. Hilangnya Ekosistem Terumbu Karang
Ekosistem terumbu karang adalah ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis-¬jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis-¬jenis moluska, krustasea, ekhinodermata, polikhaeta, porifera, dan tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis plankton dan jenis-jenis nekton.
Veron (1995) dan Wallace (1998) mengemukakan bahwa ekosistem terumbu karang adalah unik karena umumnya hanya terdapat di perairan tropis, sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama suhu, salinitas, cahaya, sedimentasi, dan arus dan gelombang.

1.1 Suhu

Perubahan suhu lingkungan akibat pemanasan global yang melanda perairan tropis ditahun 1998 telah menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90-95%. Suharsono (1999) mencatat selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di perairan Indonesia adalah 2-3 oC di atas suhu normal. Perkiraan di atas didasarkan pada suatu penelitian yang menyebutkan bahwa perubahan suhu alami, baik yang ekstrim (maksimum dan minimum) maupun secara mendadak, di bawah atau di atas suhu optimumnya dapat mengurangi pertumbuhan karang bahkan mematikannya.

1.2 Salinitas

Perubahan pada salinitas juga akan mempengaruhi terumbu karang. Hal ini sesuai dengan penjelasan McCook (1999) bahwa curah hujan yang tinggi dan aliran material permukaan dari daratan (mainland run off) dapat membunuh terumbu karang melalui peningkatan sedimen dan terjadinya penurunan salinitas air laut. Efek selanjutnya adalah kelebihan zat hara (nutrient overload) berkontribusi terhadap degradasi terumbu karang melalui peningkatan pertumbuhan makroalga yang melimpah (overgrowth) terhadap karang.

1.3 Cahaya

Bertambahnya volume dan meningkatnya tinggi permukaan air laut akan memengaruhi kedalaman penetrasi cahaya matahari menjadi semakin berkurang. Cahaya diperlukan oleh alga simbiotik zooxanthallae dalam proses fotosintesis guna memenuhi kebutuhan oksigen terumbu karang. Dengan berkurangnya kedalaman penetrasi cahaya, maka laju fotosintesis akan menurun dan kemampuan karang untuk menghasilkan kalsium karbonat pembentuk terumbu akan menurun pula. Sehingga ekosistem terumbu karang (pada kedalaman 10 meter atau lebih) akan mengalami penurunan produktifitas dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian.

1.4 Sedimentasi

Gelombang pasang ataupun tsunami yang diakibatkan oleh pemanasan global tentu akan mengakibatkan terangkutnya sedimen dari lautan ke daratan. Peristiwa ini nampaknya membawa sedikit keuntungan bagi terumbu karang yang masih mampu bertahan hidup setelah diterpa oleh gelombang dahsyat tersebut. Namun hal tersebut tak akan berlangsung lama sebab gelombang gelombang pasang tersebut dalam beberapa waktu kemudian akan kembali ditarik ke laut. Kekuatan gelombang yang dahsyat tersebut akan membawa berbagai macam materi dari daratan bersamanya. Sehingga pada saat kembali ke laut, sebagian materi-materi dari daratan tersebut ada yang terhenti di daerah pesisir dan lautan dangkal, yang kemudian meningkatkan jumlah sedimen di daerah tersebut.Jumlah sedimen yang sangat banyak tersebut akan mengakibatkan tertutupnya polip karang yang masih hidup sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis ataupun menghasilkan kalsium karbonat sebagai pembentuk terumbu. Dalam jangka waktu tertentu, ekosistem terumbu karang di daerah tersebut pun akan segera musnah.

1.5 Arus dan Gelombang

Pada dasarnya pertumbuhan terumbu karang yang berada di daerah berarus akan lebih baik apabila dibandingkan dengan pertumbuhan terumbu karang yang hidup di perairan tenang. Ini disebabkan selain gelombang air laut dapat memberikan pasokan oksigen yang banyak, gelombang juga membawa plankton yang baru untuk koloni karang, serta dapat menghalangi pengendapan pada koloni karang. Namun apabila pemanasan global terus berlanjut, keadaan yang menguntungkan tersebut akan berbalik 180 derajat menjadi kerugian yang sangat besar bagi ekosistem terumbu karang. Sebab dengan bertambahnya volume lautan, akan mengakibatkan air laut meluap sehingga terjadilah gelombang pasang yang sangat dahsyat. Selain itu potensi untuk terjadinya badai akan semakin meningkat. Badai berkekuatan tinggi ditambah dengan faktor lainnya yang dapat timbul akibat pemanasan global (semisal pergeseran lempeng bumi) akan mengakibatkan terjadinya tsunami dengan kekuatan penghancur yang tak dapat dibayangkan. Munculnya gelombang pasang maupun tsunami akan merusak kondisi fisik terumbu karang, bahkan bukan tidak mungkin terumbu karang tersebut akan hancur dan ikut terseret gelombang. Dengan adanya peristiwa tersebut, sudah tentu ekosistem terumbu karang akan semakin berkurang bahkan musnah.

2. Pencemaran Laut

Pada mulanya orang berfikir bahwa dengan melihat luasnya lautan, maka semua hasil
buangan sampah dan sisa-sisa industri yang berasal dari aktifitas manusia di daratan seluruhnya dapat di tampung oleh lautan tanpa membuat suatu akibat yang membahayakan. Bahan pencemar yang masuk ke dalam lautan akan diencerkan dan kekuatan mencemarnya secara perlahan-lahan akan diperlemah sehingga membuat mereka menjadi tidak berbahaya. Dengan makin cepatnya pertumbuhan penduduk dunia dan makin meningkatnya lingkungan industri mengakibatkan makin banyak bahan-bahan yang bersifat racun yang dibuang ke laut dalam jumlah yang sulit untuk dapat dikontrol secara tepat. Pencemaran laut merupakan suatu ancaman yang benar-benar harus ditangani secara sungguh-sungguh. Banyak kecelakaan dilautan yang menyebabkan tercecernya bahan-bahan yang bersifat racun dalam jumlah yang sangat besar.
Berikut ini adalah beberapa fakta terhadap pencemaran laut:
o Pencemaran laut di dunia menyebabkan kerusakan pada lingkungan dan kehidupan bawah laut.
o Pada tahun 2008, para penyelam mengangkat 219.528 lbs (99.57 ton) sampah dan benda-benda bekas dari 1.000 mil luas laut - rata-rata 1 penyelam mengangkat 25 ton sampah dan benda-benda bekas.
o Hampir 80% pencemaran laut disebabkan oleh plastik. Di beberapa daerah di samudra, perbandingan untuk plastik dan plankton adalah 6:1 (6 banding 1).
o Diperkirakan 46.000 potong sampah plastik mengapung di setiap 1 mil dari samudra – 70% dari sampah plastik itu di perkirakan akhirnya akan tenggelam.
o Plastik tidak mudah untuk di uraikan. Saat sampah plastik masuk ke laut, dibutuhkan bertahun-tahun untuk di uraikan – terurai secara perlahan menjadi potongan kecil yang akhirnya menjadi debu plastik.
o Telah dilaporkan ada lebih dari 260 jenis hewan laut di seluruh dunia yang terjerat dan memakan sisa-sisa tali pancing, jala dan sampah-sampah laut lainnya.
o Diperkirakan 100.000 mamalia laut termasuk lumba-lumba, paus, anjing laut, dan penyu laut terancam dengan banyaknya sampah dan benda-benda bekas yang masuk ke laut tiap tahunnya. Dan 86% dari populasi penyu laut terkena dampak buruk dari pencemaran laut.
o Lebih dari 1 juta populasi burung laut mati karena pencemaran laut setiap tahunnya.

Beberapa masalah pencemaran di laut yaitu:

1. Pencemaran minyak
Saat ini industri minyak dunia telah berkembang pesat, sehingga kecelakaan-kecelakaan yang mengakibatkan tercecernya minyak dilautan hampir tidak bisa dielakkan. Kapal tanker mengangkut minyak mentah dalam jumlah besar tiap tahun. Apabila terjadi pencemaran minyak dilautan, ini akan mengakibatkan minyak mengapung diatas permukaan laut yang akhirnya terbawa arus dan terbawa ke pantai.
Pencemaran minyak mempunyai pengaruh luas terhadap hewan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup disuatu daerah. Minyak yang mengapung berbahaya bagi kehidupan burung laut yang suka berenang diatas permukaan air. Tubuh burung akan tertutup minyak sehingga untuk membersihkannya, mereka menjilatinya. Akibatnya mereka banyak minum minyak dan mencemari diri sendiri. Selain itu, mangrove dan daerah air payau juga rusak. Mikroorganisme yang terkena pencemaran akan segera menghancurkan ikatan organik minyak, sehingga banyak daerah pantai yang terkena ceceran minyak secara berat telah bersih kembali hanya dalam waktu 1 atau 2 tahun.

2. Pencemaran logam berat
Logam-logam berat yang masuk kedalam tubuh hewan umumnya tidak dikeluarkan lagi dari tubuh mereka. Karena itu logam-logam cenderung untuk menumpuk di dalam tubuhnya. Sebagi akibatnya logam-logam tersebut akan terus berada di sepanjang rantai makan. Hal ini disebabkan oleh karena predator pada satu trofik level makan mangsa mereka dari trofik yang lebih rendah yang telah tercemar (ikan dimakan oleh manusia). Disini terlihat bahwa kandungan konsentrasi logam berat terdapat lebih tinggi pada tubuh hewan yang letaknya lebih tinggi didalam tropik level. Jadi predator tingkat tinggi (dengan umur lebih panjang) lebih banyak menumpuk logam berat. Contoh pencemaran logam berat :
- “Minamata Disease” (di Jepang) yang disebabkan oleh Hg (merkuri). Menyebabkan kelemahan otot, kehilangan penglihatan, ketidakseimbangan fungsi otot dan kelumpuhan. Selain itu juga meracuni janin dan merusak sistem syaraf pusat.
- “Itai-itai Disease” yang disebabkan oleh logam Cd. Menyebabkan nyeri/ngilu
pada tulang, mempengaruhi kehamilan, lactasi, ketidakseimbangan internal sekresi, penuaan, dan kekurangan kalsium.

Pengaruh Logam Berat Terhadap Ekosistem Laut:
• Logam berat yang dilimpahkan ke perairan, baik sungai ataupun laut akan mengalami proses-proses seperti pengendapan, adsorpsi dan absorpsi oleh organisme-organisme perairan.
Pengaruh logam berat terhadap organisme-organisme tersebut atas dasar daya racunnya dibagi menjadi 2 yaitu :
- Bersifat lethal atau mematikan -> LC50 (median lethal concentration)
- Bersifat sublethal. Pengaruh sublethal dapat menghambat pertumbuhan, perkembangan dan reproduksi; menyebabkan terjadinya perubahan morfologi; merubah tingkah laku organisme.

3. Sampah
Sampah yang mengandung kotoran minyak juga dibuang kelaut melalui sistem daerah aliran sungai (DAS). Sampah-sampah ini kemungkinan mengandung logam berat dengan konsentrasi yang tinggi. Tetapi umumnya mereka kaya akan bahan-bahan organik, sehingga akan memperkaya kandungan zat-zat makanan pada suatu daerah yang tercemar yang membuat kondisi lingkungan menjadi lebih baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. Aktifitas pernafasan dari organisme ini membuat makin menipisnya kandungan oksigen khususnya pada daerah estuarin. Hal tersebut akan berpengaruh besar pada kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang hidup disitu. Pada keadaan yang paling ekstrim, jumlah spesies yang ada didaerah itu akan berkurang secara drastis dan dapat mengakibatkan bagian dasar dari estuarin kehabisan oksigen. Sehingga mikrofauna yang dapat hidup hanya dari golongan cacing. Jenis-jenis sampah kebanyakan termasuk golongan yang mudah hancur dengan cepat, sehingga pencemaran yang disebabkannya tidak merupakan suatu masalah besar diperairan terbuka.

4. Pestisida

Kerusakan yang disebabkan oleh pestisida adalah bersifat akumulatif. Mereka sengaja ditebarkan ke dalam suatu lingkungan dengan tujuan untuk mengontrol hama tanaman atau organisme-organisme lain yang tidak diingini. Beberapa pestisida yang dipakai kebanyakan berasal dari suatu grup bahan kimia yang disebut Organochloride, misalnya DDT. Pestisida jenis ini termasuk golongan yang mempunyai ikatan molekul yang sangat kuat dimana molekul-molekul ini kemungkinan dapat bertahan di alam sampai beberapa tahun sejak mereka mulai dipergunakan. Hal itu sangat berbahaya karena dengan digunakannya golongan ini secara terus menerus akan membuat mereka menumpuk di lingkungan dan akhirnya mencapai suatu tingkatan yang tidak dapat ditolerir lagi dan berbahaya bagi organisme hidup didaerah tersebut. Beberapa organisme air termasuk ikan dan udang ternyata menumpuk bahan kimia didalam jaringan tubuhnya.

5. Limbah industri dan domestik

Limbah adalah limbah cair yang berasal dari masyarakat urban, termasuk di dalamnya limbah kota (municipal) dan aktivitas industri, yang masuk ke sistem saluran pembuangan kota. Pada umumnya limbah domestik mengandung sampah padat (berupa tinja, dan cair yang berasal dari rumah tangga). Berdasarkan sifat fisik, kimia air limbah, tingkah lakunya diperairan dan pengaruhnya terhadap organisme, jenis limbah industri ada 5 :
1.Bahan-bahan organik terlarut: bahan
beracun,tahan urai dan biodegradabel
2.Bahan -bahan anorganik : unsur-unsur hara
3.Bahanorganik tidak larut: minyak
4.Bahan-bahan anorganik yang tidak larut. Contohnya logam berat.
5.Bahan-bahan radioaktif.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

• ekosistem laut dangkal merupakan daerah dimana cahaya matahari dapat masuk, sehingga, ekosistem ini memiliki potensi fotosintesis yang sangat tinggi
• pada aliran energi, energi yang bisa diserap konsumen dari makanannya hanya sebesar 10%.
• Semakin ke atas maka energi yang dihasilkan semakin kecil

Saran
• Kita harus bisa menekan kehilangan ekosistem terumbu karang yang hilang akibat perunahan iklim dengan cara menanam bibit-bibit dari terumbu karang tersebut
• Demi menjaga kelestarian ekosistem laut dangkal kita harus bisa menekan sekecil mungkin pencemaran-pencemaran laut seperti tidak membuang limbah dan pestisida ke lautan


Daftar Pustaka

http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0144%20Bio%203-5e.htm,
http://damandiri.or.id/
http://www.mbgnet.net/salt/sandy/indexfr.htm,
http://repository.ui.ac.id/, http://www.sciencelearn.org./contexts/life_in_the_sea/nz_research/bryozoans_and_ocean_acidification,
http://www.scribd.com/doc/24004638/ -NEGATIF-PEMANASAN-GLOBAL-BAGI-KELANGSUNGAN-HIDUP-EKOSISTEM-TERUMBU-KARANG,

0 comments:

Poskan Komentar